FEBI UIN SAIZU

Mahasiswa FEBI Gelar Pembelajaran Multikultural Melalui Perkuliahan PPKn

Purwokerto – Perkuliahan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kembali menghadirkan pembelajaran yang inovatif. Pada Senin 1 Desember 2025, mahasiswa mengikuti sesi kuliah bertema “Pembelajaran Multikultural dalam Pendidikan di Era Keberagaman.” Perkuliahan tersebut dipandu langsung oleh Prof. Dr. Tutuk Ningsih, M.Pd., yang telah lama dikenal sebagai akademisi sekaligus praktisi pendidikan multikultural di Indonesia.

ppknDalam pemaparannya, Prof. Tutuk menegaskan bahwa pembelajaran multikultural merupakan sarana membangun karakter toleran, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

“Mahasiswa harus menjadi agen persatuan. Pendidikan multikultural bukan hanya teori, tetapi praktik nyata bagaimana kita menerima perbedaan,” jelas Prof. Tutuk di hadapan para mahasiswa.

Ia juga menekankan pentingnya membangun sikap inklusif, menghindari prasangka sosial, dan menjadikan dialog sebagai instrumen perdamaian.

Menariknya, perkuliahan kali ini tidak hanya berlangsung melalui ceramah akademik. Mahasiswa menampilkan simulasi pembelajaran multikultural melalui sebuah naskah drama berjudul “Festival Kebhinekaan di Sekolah Nusantara Harmoni” yang mencerminkan interaksi antaragama dan antarbudaya di Indonesia.

Dalam naskah tersebut, mahasiswa menampilkan enam kelompok agama: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Setiap kelompok memperkenalkan suku, budaya, cara bicara, dan nilai-nilai keagamaan masing-masing.

Melalui dialog logat Jawa, Bugis, Sunda, Minang, Tionghoa hingga Papua, mahasiswa menampilkan keberagaman sebagai kekuatan. Konflik, candaan, dan kerja sama antar kelompok agama menggambarkan bagaimana perbedaan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan toleransi.

Salah satu adegan menunjukkan bagaimana kesalahpahaman jadwal aula dapat diselesaikan lewat dialog, bukan pertikaian. Adegan lain memperlihatkan kepedulian saat salah satu tokoh bercerita tentang musibah banjir di kampungnya.

Prof. Tutuk mengapresiasi kreativitas mahasiswa atas implementasi nilai multikultural dalam bentuk drama. “Inilah pendidikan multikultural. Kita tidak hanya mempelajari konsepnya, tetapi bagaimana kita hidup, bertindak, dan berinteraksi sebagai bangsa yang beragam,” tegasnya.

Beliau menekankan bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang mampu membangun ruang dialog dan menghargai keragaman sebagai jati diri Indonesia.

Perkuliahan PPKn ini diharapkan mampu membentuk mahasiswa menjadi generasi yang moderat, toleran, dan siap menghadapi dinamika sosial di tengah pluralitas bangsa. Melalui drama dan pembelajaran langsung, mahasiswa diajak untuk merasakan pengalaman belajar yang inklusif dan kontekstual.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran multikultural sangat relevan diterapkan dalam pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan kampus UIN Saizu Purwokerto yang dikenal sebagai ruang akademik moderat dan berwawasan kebangsaan.

Pembelajaran PPKn ini memberikan pesan bahwa “Perbedaan bukan jarak, tetapi jembatan untuk saling memahami.” Mahasiswa bukan hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga pengalaman konkret tentang arti keberagaman di Indonesia.

Share
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
maklumat febi
Skip to content